Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak

Pelaihari - Kalimantan Selatan

Etiologi

Klasifikasi Agen Penyakit

Ordo: Pasteurellales

Family: Pasteurellaceae

Species: Pasteurella multocida

 

 

Penyakit disebabkan oleh serotipe tertentu dari Pasteurella multocida, berbentuk coccobacillus yang sebagian besar hidup sebagai flora normal pada bagian nasopharynx hewan.

Serotipe Asia B:2 dan serotipe E:2 (Carter and Heddleston system), serupa dengan klasifikasi serotipe baru 6:B dan 6:E (Namioka-Carter system), merupakan penyebab utama dari penyakit.

Serotipe lain, yang dinamakan A:1, A:3 telah dikaitkan dengan kasus Haemorrhagic Septicaemia pada sapi dan kerbau di India dengan terjadinya pneumonia hingga kematian.

Belum diketahui kaitan kapsular antigen dan jumlah antigen somatik.

Resistensi dari keadaan fisik dan kimia

Temperature: P. multocida rentan pada suhu hangat (55°C).

Desinfektan: P. multocida rentan pada sebagian besar desinfektan.

Pertahanan hidup: Selama musim hujan di Asia Tenggara, diperkirakan bahwa organisme dapat bertahan selama berjam-jam dan mungkin berhari-hari di tanah dan air yang lembab.

Epidemiologi

Haemorrhagic Septicaemia (HS) merupakan penyakit utama dari sapi dan kerbau yang memiliki ciri antara lain terjadinya septicaemia dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi dan terjad akut.

Di beberapa negara Asia yang terjangkit wabah kebanyakan terjadi saat kondisi iklim khas penghujan (kelembaban dan suhu tinggi).

Inang

Sapi dan kerbau (Bubalus bubalis) merupakan inang utama dari penyakit ngorok ini dan kerbau lebih rentan terjangkit daripada sapi.

Walau wabah penyakit ngorok telah dilaporkan pada domba, kambing dan babi, namun jarang terjadi. Kasus serupa juga pernah dilaporkan pada rusa, unta, gajah, kuda, keledai dan yaks.

Kelinci dan tikus percobaan sangat rentan terjangkit.

Belum ada laporan penyakit pada manusia.

Sapi, kerbau dan bison dapat menjadi reservoir infeksi.

Transmisi

P. multocida dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi serta luruhan dari mulut atau hidung.

Sapi dan kerbau menjadi terinfeksi ketika memakan atau menghirup organisme penyebab, di mana berasal dari bagian nasofaring dari hewan terinfeksi. Pada area endemis, sebanyak lebih dari 5% dari sapi atau kerbau dapat menjadi karier.

Epidemik terburuk terjadi selama musim hujan, pada hewan saat kondisi kesehatan buruk.

Stres yang berasal dari penyimpanan makanan yang buruk dapat memperburuk infeksi dan kandang terlalu padat serta kondisi basah juga merupakan faktor yang dapat meningkatkan penyebaran penyakit.

P. multocida dapat bertahan berjam-jam hingga harian pada tanah lembab atau air, organisme penyebab tidak ditemukan di tanah atau pastura setelah 2-3 minggu.

Serangga arthropoda tidak tampak sebagai vektor dari penyakit ini.

Sumber isolasi dari agen penyakit

Darah: septicaemia pada penyakit ini terjadi tahap akhir, sampel darah yang diambil dari hewan sakit yang belum mati tidak selalu mengandung organisme P. multocida.

Sekresi Nasal: organisme tidak selalu dapat ditemukan pada hewan sakit.

Kejadian

Penyakit Hemorrhagic septicaemia merupakan penyakit strategis di Asia, Afrika, beberapa negara di Eropa dan Timur Tengah. Belum pernah dilaporkan terjadi di Negara Mexico, baik Amerika tengah atau Selatan.

- Serotipe B:2 pernah dilaporkan di daerah semenanjung selatan Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, Mesir dan Sudan.

- Serotipe E:2 pernah dilaporkan di daerah Mesir, Sudan, Republik Afrika Selatan dan beberapa negara Afrika lainnya.

- Tiga kejadian wabah pernah dilaporkan pada kawanan bison di Amerika Serikat, namun, tidak ada bukti bahwa penyakit menyebar ke kawanan sapi di sekitarnya.

Diagnosa

Beberapa karakteristik epidemiologis dan tinjauan klinis dapat ditemukan untuk mengidentifikasi HS. Dari beberapa kejadian dari sejarah terjadinya wabah hingga tidak ampuhnya perlakuan vaksinasi. Kasus sporadik lebih sulit untuk didiagnosa secara klinis. Terjadinya musim sepanjang tahun, penyebaran cepat dan kejadian pada kawanan yang padat, dengan adanya demam dan pembengkakan edematus mengindikasikan terjadinya penyakit ini. Karakteristik nekropsi dari lesi mendukung adanya diagnosa klinis, peneguhan memerlukan isolasi dan karakterisasi dari patogen menggunakan teknik konvensional dan molekular. Waktu inkubasi bervariasi antara 3-5 hari. Pada eksperimen menggunakan infeksi dengan dosis lethal, sapi atau kerbau menunjukkan tanda klinis dalam beberapa jam dan mati dalam kurun waktu 18-30 jam. Tingkat morbiditas dipengaruhi oleh kekebalan dan kondisi lingkungan, termasuk di dalamnya cuaca dan manajemen peternakan, morbiditas dapat lebih tinggi ketika hewan berada dalam kandang dengan kepadatan tinggi, dalam kondisi buruk atau dalam keadaan basah. Tingkat mortalitas dapat mendekati 100% kecuali apabila hewan mendapat pengobatan sangat dini pada stadium awal penyakit, beberapa hewan dapat sembuh dengan perlakuan yang cepat. Pemberian antibiotik cukup efektif bila diberikan sedini mungkin, selama stadium pireksi. Beberapa vaksin dapat memberikan kekebalan untuk 6 hingga 12 bulan.

Diagnosa Klinis

Sebagian besar kasus yang terjadi pada sapi atau kerbau bersifat akut atau perakut. Adanya demam, kelemahan dan susah gerak merupakan tanda klinis awal. Kemudian dilanjutkan dengan adanya alivasi dan leleran hidung serous dan pembengkakan edematus dapat timbul pada daerah faringeal, pembengkakan ini menyebar hingga ke daerah leher bawah hingga punggung. Membran mukosa mengalami kongesti, gangguan pernafasan dan hewan biasanya ambruk dam mati dalam kurun waktu 6-24 jam setelah tanda klinis pertama timbul. Kematian dapat terjadi mendadak atau dalam kurun waktu 5 hari. Hewan yang menunjukkan gejala klinis, terutama kerbau, jarang dapat sembuh. Kasus kronis tidak tampak terjadi. Kerbau secara umum lebih mudah terserang penyakit ini daripada sapi dan menunjukkan penampilan lebih buruk dari penyakit dengan adanya tanda klinis yang lebih intens. Di area endemis, kematian paling banyak terjadi pada sapi berumur lanjut dan beranjak dewasa. Epizootis masif dapat terjadi pada daerah endemik sedemikian halnya terjadi pada daerah non-endemis. Dahulu penyakit ini diidentifikasi sebagai komplikasi sekunder pada sapi dan kerbau pada penyakit mulut dan kuku (PMK). Tingkat fatal dari kasus penyakit ini dapat mencapai 100% bila pengobatan tidak dilakukan pada saat awal mula terjadinya penyakit.


Lesi yang Terjadi

Pendarahan yang tersebar pada tubuh, edema dan hiperemi sejalan dengan adanya sepsis parah. Edema menyebabkan terjadinya massa serofibrin terkoagulasi dengan corak warna seperti sedotan atau lumuran darah. Adanya pembengkakan di area kepala, leher dan punggung terjadi pada hampir semua kasus. Pembengkakan serupa dapat ditemukan di bagian perototan. Hemorrhagi subserous berbentuk ptechi mungkin terjadi di seluruh tubuh, dan bagian rongga thorak dan abdomen sering terisi cairan keruh yang bercampur darah. Ptechi yang tersebar dapat terlihat pada jaringan dan nodul limfatik, beberapa di bagian nodul pharyngeal dan cervical; nodul ini seringkali membengkak dan mengalami haemorrhagi. Pneumonia dan enteritis saluran pencernaan dapat terjadi namun bukan merupakan gejala utama. Pada beberapa kasus tidak terjadi adanya pembengkakan pada tenggorokan dan pneumonia ekstensif. Tidak ada penampakan mikroskopis menciri pada penyakit ini (semua lesi terjadi secara konsisten dengan shock endotoksin dan kerusakan kapiler masif).

 

Diagnosa Banding

Bovine Respiratory Disease memiliki gejala yang mirip dengan penyakit ngorok, namun penyebabnya beda (Mannheimia haemolytica), tidak bersifat septikemis dan tidak menyebabkan ptechi multisistemik. Keadaan akut dari penyakit dan edema ekstensif serta hemorrhagi membuat sulit dibedakan dengan penyakit blackleg dan anthrax. Salmonellosis akut, mikoplasma dan pneumonia pasteurellosis harus ditangguhkan dengan uji laboratorium.


Sampel

P. multocida tidak selalu ditemukan pada sampel darah sebelum terjadinya fase akhir penyakit dan tidak pula selalu ditemukan pada sekresi nasal atau cairan tubuh dari hewan terjangkit. Pada hewan yang baru saja mati, sampel darah yang mengandung heparin atau koleksi swab dapat diambil dari organ jantung dalam kurun waktu beberapa jam setelah kematian dan dari bagian nasal. Pada hewan yang telah lama mati sampel dapat diambil dari tulang belakang. Organ dalam lain dapat pula dijadikan sebagai sampel. Sampel darah dapat diambil dari vena jugularis dengan aspirasi atau incisi, sampel darah harus diletakkan pada medium transport standar dan menggunakan ice packs. Limpa dan sumsum tulang merupakan sampel yang baik untuk digunakan di laboratorium, karena terkontaminasi paling akhir pada fase post mortem yang disebabkan bakteri lain. Dapat pula menggunakan ujung telinga pada hewan hidup.


Prosedur


Diagnosa dari penyakit ngorok tergantung pada kualitas isolasi P. multocida, dari darah atau sumsum tulang dari hewan mati menggunakan metode kultur atau biologis dan identifikasi dari organisme menggunakan prosedur biokemis, serologis dan metode molekular. Noda darah dari hewan terinfeksi dapat diwarnai dengan pewarnaan Gram, Leishman's atau methylene blue. Organisme tampak sebagai bakteri gram negatif, baksili pendek bipolar. Tidak ada kesimpulan diagnosa yang didapatkan dari pemeriksaan tunggal mikroskopik. Sampel dapat berasal dari kultur kasein/sukrosa/ragi agar yang mengandung 5% darah. Agar darah konvensional dapat pula digunakan. Secara detail, berkenaan dengan metode biokimia untuk identifikasi organisme, dapat ditemukan dalam manual Terrestrial OIE. Metode serotipe antara lain uji rapid slide aglutinasi, uji hemaglutinin indirect, uji aglutinasi antigen somatik, agar gel immunodifusi dan immunoelektroforesis terdapat dalam manual Terrestrial OIE. Teknologi PCR dapat diaplikasikan untuk deteksi rapid, sensitif dan spesifik dari P. multocida, tingkat kecepatan dan tingginya spesifisitas dari dua uji spesifik P. multocida memberikan efisiensi optimal tanpa diperlukan adanya tambahan hibridisasi. Walaupun penggunaan dari hibridisasi dapat menimbulkan spesifisitas, capain ini biasanya hanya mungkin terjadi pada laboratorium spesialis. PCR spesifik P. multocida dapat mengidentifikasi semua subspesies dari P. multocida.
 

Pencegahan dan Kontrol Penyakit

Suntikan Profilaksis

Vaksinasi sangat umum digunakan di daerah endemis. Hindari kerumunan, terutama saat musim hujan dapat pula menjadi faktor pengurang resiko terjadinya penyakit.

Suntikan Medis

Tes Kerawanan Antimikroba (AST) cukup diperlukan untuk P. multocida yang resisten terhadap penggunaan agen antibiotik. Pemakaian antibiotik berikut ini cukup ampuh antara lain: penicillin, amoxicillin/ ampicillin, cephalothin, ceftiofur, cefquionome, streptomycin, gentamycin. spectinomycin, florfenicol, sulfonamid, trimethoprim/sulfametoxazole, erythromycin, tilmicosin, enrofloxacin (atau floroquinolon lain), Amikacin dan norfloxacin. Hewan yang terpapar Pasteurella multocida dengan serotipe 6 B dan 6 E dan yang sembuh akan lebih kebal terhadap penyakit.

 

Vaksin inaktif

Perlakuan menggunakan 3 tahap persiapan antara lain: bakterin kering dicampur dengan alum ajuvan atau minyak ajuvan dan bakterin inaktif formalin, bakterin minyak ajuvan cukup kuat dalam memberikan perlindungan terhadap hewan hingga 1 tahun dan bakterim dalam bentuk alum ajuvan memberikan perlindungan 4-6 bulan. Maternal antibodi cukup berpengaruh dalam efektifitas pada pedet.


Vaksin aktif

Vaksin hidup Penyakit Ngorok dibuat dengan avirulen dari P. multocida strain B:3,4 yang telah digunakan untuk mengendalikan penyakit pada sapi dan kerbau berumur lebih dari 6 bulan di Myanmar sejak 1989; vaksin diaplikasikan menggunakan aerosol intranasal. Vaksin telah direkomendasikan oleh FAO sebagai vaksin yang aman dan ampuh untuk digunakan di negara-negara Asia, namun, tidak ada laporan mengenai penggunaannya di negara lain dan vaksin inaktif merupakan satu-satunya persiapan pada negara-negara yang terserang penyakit ini. Vaksin ini telah banyak digunakan di Indonesia.
 

Kesehatan Masyarakat

Belum ada laporan resmi mengenai serangan penyakit pada manusia yang terinfeksi serotipe B:2 dan E:2 P. multocida, serotipe lain dapat menginfeksi manusia dan pencegahan harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran.

 

Sumber:

Artikel: Diterjemahkan dari artikel OIE

Gambar: Youtube