Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak

Pelaihari - Kalimantan Selatan

Klasifikasi agen penyakit

Mycoplasma mycoides subsp. mycoides Koloni kecil - biotipe sapi (MmmSC)

Gugus M. mycoides terdiri dari enam strain mycoplasma yang berasal dari sapi dan kambing yang memiliki kemiripan karakteristik serologis dan genetik, memberikan kerancuan pada taksonomi dan diagnosa menggunakan cara tradisional.

Identifikasi spesifik dari MmmSC dapat diketahui dari uji PCR atau penggunaan Spesific Monoclonal Antibodies (MABs). Walau MmmSC telah diketahui sebagai biotipe yang sangat homogen, teknik molekular terkini telah mengidentifikasi perbedaan antar strain. Analisa sequencing multi-locus menggantikan 3 metode lain yang berkorelasi dengan asal geografis (Eropa, Afrika Selatan dan sebagian besar Afrika). Strain yang berasal Eropa dapat dibedakan dari yang berasal dari Afrika dengan metode molekular, dan tidak dapat mengoksidasi gliserol, di mana dapat membentuk pertahanan dengan patogenisitas rendah. Strain Afrika tampak lebih variatif. Proses sekuensing dari gen lengkap dari strain PG1 telah dipublikasikan. Dinding sel mycoplasma bersifat pleomorphic dan resisten dari antibiotik dari golongan betalaktamin seperti penisilin. Perkembangan dari mycoplasma relatif mudah terhambat dan memerlukan media spesial dengan sediaan kolesterol (penambahan pada serum kuda).

 

Contagious bovine pleuropneumonia (CBPP) merupakan penyakit yang menyerang sapi dan kerbau air yang disebabkan oleh Mycoplasma mycoides subsp. Mycoides (M. mycoides). Seperti pada namanya, penyakit ini menyerang bagian paru-paru dan membran yang melapisi rongga thoraks (pleura), menyebabkan terjadinya demam dan tanda-tanda klinis respiratorik seperti kepayahan atau pernafasan cepat, batuk dan discharge nasal (leleran hidung).

Dikarenakan bersifat sangat menular dengan tingkat mortalitas di atas 50%, dapat menyebabkan kerugian ekonomis yang signifikan. CBPP merupakan penyakit yang sering terjadi di Afrika. CBPP merupakan penyakit yang terdaftar pada OIE dalam Terrestrial Animal Health Code. Negara-negara anggota OIE senantiasa mengirimkan laporan terkait penyakit sesuai dengan standar yang telah diterapkan. CBPP merupakan satu dari beberapa penyakit yang merupakan sorotan utama dari OIE untuk dapat diberantas sedini mungkin.

 

Transmisi dan Penyebaran

Transmisi dari penyakit terjadi melalui kontak langsung antara yang terinfeksi dengan hewan yang rentan yang kemudian dapat tertular dengan menghirup percikan cairan batuk dari hewan terinfeksi. Beberapa hewan dapat menjadi pembawa penyakit tanpa menunjukkan tanda klinis, maka kontrol penyakit pun akan lebih susah. Belum ada bukti terjadinya transmisi dari bentuk muntahan (benda mati seperti pakaian, peralatan atau kendaraan) karena organisme tidak bertahan di lingkungan.

 

 

Resiko pada kesehatan manusia

Manusia tidak diketahui sebagai obyek yang dapat tertular CBPP, jadi tidak ada resiko pada kesehatan manusia.

 

Tanda klinis

CBPP dapat menyebabkan terjadinya anoreksia (kekurangan nafsu makan), demam dan gangguan pernafasan, seperti ritme pernafasan yang cepat, batuk disertai leleran hidung dan  rasa nyeri, kesulitan bernafas. Pada banyak kasus, Pada iklim panas, hewan tertular seringkali berdiri sendiri di tempat teduh, kepalanya diturunkan dan memanjang, punggungnya sedikit melengkung dan anggota tubuhnya berubah-ubah posisi. Pada banyak kasus, penyakit ini dapat berkembang dengan penyakit, hewan kehilangan kondisi dan bernafas menjadi sangat kepayahan dengan suara gemuruh saat membuang nafas. Hewan menjadi terkulai dan dalam beberapa kasus hewan mati setelah 1-3 minggu.

Tingkat mortalitas dapat mencapai 50% pada kasus pengobatan tanpa antibiotik. Tanda klinis tidak selalu merupakan sebuah bukti. Bentuk subakut atau tanpa tanda klinis dapat terjadi pada hewan terinfeksi pada sebagian masa penyembuhan pada periode sekitar tiga atau empat minggu. Sapi yang demikian dapat menyebarkan penyakit, walau tampak tidak terserang penyakit.

 

Diagnosa

Diagnosa berdasarkan pada isolasi dari M. mycoides yang berasal dari sampel seperti swab nasal dan air kuras dari paru-paru atau cairan pleural yang didapatkan dari sedotan dari suntikan atau sampel nekropsi.

 

Pencegahan dan kontrol

Masalah utama dari kontrol penyakit atau eradikasi merupakan kejadian yang cukup sering dari bentuk subakut atau infeksi tidak jelas dan hewan kronis karier setelah fase klinis. Di beberapa negara, strategi pengendalian tergantung pada deteksi dini dari terjadinya wabah, kontrol dari pergerakan hewan dan kebijakan pemusnahan. penyakit ini telah berhasil ditangani di beberap negara Amerika Utara dan Eropa. Di Afrika kontrol penyakit berdasar pada status vaksinasi. Pengawasan dari penyakit melalui inspeksi rumah pemotongan hewan merupakan metode yang sangat efisien untuk mendeteksi terjadinya tanda klinis. Pengobatan dari hewan yang terinfeksi menggunakan antibiotik dapat berakibat pada adanya hewan yang tampak sehat namun masih tetap terinfeksi, jadi hal tersebut tidak direkomendasikan. Vaksinasi dengan strain bakteri yang dilemahkan untuk menekan tingkat infeksi. Vaksin dapat diproduksi sesuai prosedur yang ada pada pedoman OIE Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals.