Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak

Pelaihari - Kalimantan Selatan

Sifat dan Terjadinya

 

Brucellosis dikenal juga dengan nama Keluron Menular atau Penyakit Bang pada daerah tertentu. Infeksi kronis yang terjadi pada sapi dan kerbau yang dapat menyerang organ reproduksi dan menyebabkan keguguran pada sapi, biasanya terjadi pada kebuntingan sekitar 7 bulan. Penyakit terjadi secara meluas di dunia dan disebabkan oleh suatu bakteri, Brucella abortus, yang menginfeksi hewan sebagai akibat dari menelan makanan atau hijauan tercemar. Pada hewan bunting, organisme memasuki uterus dan menginfeksi selaput lendir janin yang menyebabkan keguguran.

 

Dua organisme lain yang dekat hubungannya, Brucella melitensis dan Brucella suis menyebabkan Brucellosis pada domba, kambing dan babi serta ketiga spesies semuanya dapat menyerang manusia. Penyakit disebabkan oleh Brucella abortus, pada manusia disebut "Demam Undulant" sedangkan Brucella melitensis, menyebabkan "Demam Malta". Manusia biasanya dapat terinfeksi karena meminum susu dari hewan yang telah terserang atau karena menangani kelahiran atau sisa abortus.

 

Gejala

 

Abortus dari janin terjadi antara bulan ke 5 - 8. Sebagai dampaknya, selaput janin (pasca-lahir) mungkin tertinggal lama dan menyebabkan sapi menjadi mandul.

 

Diagnosa

 

Apabila sapi mengalami keguguran, contoh darah harus diambil segera pada saat tersebut dan contoh kedua 30 hari setelah keguguran. Ini adalah cara terbaik untuk peneguhan diagnosa. Ini melibatkan pengambilan 5-10 ml darah dari vena jugularis ke dalam suatu tabung atau botol kering. Apabila ini memerlukan waktu lama untuk mencapai laboratorium, dapat ditambahkan satu bagian dari 10% larutan asam borax ke-10 bagian darah. Preparat ulas darah dapat dibuat dari lambung pedet akibat abortus. Suatu campuran susu dari semua sapi yang berada dalam satu kumpulan (lebih dari 40 ekor) ditaruh di dalam botol dan kemudian dikirim ke laboratorium Balai Veteriner (dengan menambah 5% formalin apabila memerlukan waktu lebih dari 24 jam untuk dapat mencapai laboratorium) untuk suatu uji yang disebut "Ring Test". Uji ini akan menampakkan apakah dari salah satu sapi diketemukan infeksi.

 

Pengendalian dan Pencegahan

 

Di beberapa negara, hewan pada sekelompok yang terinfeksi diuji dan reaktornya dipotong namun hal ini jarang dilakukan. Di beberapa negara hampir semua pedet betina yang berumur 3 - 9 bulan (sesuai tipe vaksin yang dipergunakan) divaksin, yang memberikan suatu bentuk imunitas untuk melawan penyakit yang dapat bertahan seumur hidup. Perwatan vaksin harus dilaksanakan sebaik mungkin sebelum dan selama vaksinasi (vaksin dapat menyebabkan infeksi pada manusia).

Vaksinasi dapat mempengaruhi uji ulas darah yang dilakukan sehingga kedua metoda tidak dapat dipergunakan pada kelompok yang sama. Semua hewan yang divaksin harus diberi ear tag (nomor telinga) atau tanda di bagian telinga.

Dokter hewan akan memutuskan cara yang akan ditempuh dan mungkin akan menyarankan agar semua sapi dalam kelompok harus divaksin sebagaimana pada anak sapi dara.

Mengingat bahwa penyakit ini dapat menyebar dari satu kelompok ke kelompok yang lain oleh hewan terinfeksi yang dipindahkan ke kelompok yang tidak tertular, maka sangat penting agar diharuskan semua hewan yang dibawa ke kelompok yang bebas diuji terlebih dahulu. Dalam setiap keadaan, anak sapi dara atau sapi yang dibawa masuk harus dipelihara dalam isolasi dan dipisahkan dari kelompok bebas sampai mereka beranak dan telah diuji 30 hari kemudian, sebagaimana disebutkan di atas.

Apabila sapi keguguran, semua material tercemar (pedet yang gugur, lendir janin, dsb.) harus dibakar dan daerah di mana terjadi keguguran hendaknya diseucihamakan. Susu dari induk yang keguguran tidak boleh dipergunakan kecuali yang telah direbus terlebih dahulu.

Kebijakan untuk menangani Brucellosis ditentukan secara nasional oleh pemerintah, dalam hal ini adalah DIrektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Metoda pengendalian yang dipergunakan oleh dokter hewan dan Paramedik Veteriner untuk setiap kelompok ternak di negara tertentu akan selalu disesuaikan dengan kebijakan tersebut.