Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak

Pelaihari - Kalimantan Selatan


                Ketersediaan hijauan pakan di Indonesia tidak tersedia sepanjang tahun, dan hal ini merupakan suatu kendala yang perlu dipecahkan, Musim penghujan produksi hijauan berlimpah, dan sebaliknya pada musim kemarau mengalami kekurangan. Tidak jarang peternak harus membeli hijauan pakan ternak saat terjadi musim kemarau.
Salah satu faktor penyebab ketidakberhasilan dalam usaha di bidang peternakan terutama ternak ruminansia adalah berawal dari kurangnya informasi mengenai sumber daya hijauan pakan ternak. Seringkali petani ternak/peternak tidak memperhatikan apakah hijauan pakan yang tersedia sesuai dengan kapasitas ternak atau belum.
                Selama ini peternak pada umumnya mengandalkan tanaman liar ataupun tanaman sela di persawahan sebagai sumber hijauan pakan ternak yang dipelihara secara intensif di kandang. Adapun peternak di daerah timur Indonesia sebagian besar memelihara ternak dengan dilepas di areal padang penggembalaan dengan areal padang rumput yang luas. Di beberapa tempat ternak dilepas untuk merumput di tepi jalan, halaman rumah atau tanah kosong di sekitar desa. Hal ini dimungkinkan terutama bila aman dari pencurian atau kecelakaan terhadap ternak. Sistem ini menggunakan sedikit tenaga kerja. Peternak menggunakan sistem penggembalaan ini sepanjang tahun. Selama musim hujan dimana sebagian areal penggembalaan dimanfaatkan untuk ditanami tanaman budidaya semusim, kawanan ternak digiring ke wilayah dekat hutan. Selain itu beberapa ternak dimanfaatkan untuk menggarap tanah pertanian. Bila tidak terdapat kawasan hutan, peternak membuatkan kandang pagar sehingga ternak dapat merumput dan memakan pakan yang disediakan.
               Padang penggembalaan merupakan sumber penyedia hijauan yang lebih ekonomis dan murah serta dapat secara langsung dikonsumsi oleh ternak atau hewan bahkan satwa liar. Areal ini secara tidak langsung harus dapat memenuhi kebutuhan hijauan dari ternak baik secara kuantitas maupun kualitas secara kontinyu. Padang penggembalaan umumnya terdiri dari rumput seluruhnya atau leguminosa saja, ataupun campuran rumput dan leguminosa.
Dalam bahasa Inggris, hal-hal yang berkaitan dengan penggembalaan disebut pastoral. Ekosistem ini terdiri atas peternak (pastoralist) dan hewan ternak. Adapun padang penggembalaan disebut ekosistem pastoral (Iskandar, 2001). Lebih lanjut dijelaskan bahwa masyarakat peternak (pastoralist society) merupakan bagian integral yang sangat penting dalam ekosistem pastoral ini. Berbagai aktifitas peternak itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
padang penggembalaan dapat dikatakan berpotensi jika padang tersebut mampu memproduksi hijauan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas. Potensi padang penggembalaan ditentukan oleh lokasi, dimana hijauan pakan tersebut dapat tumbuh dengan baik karena ditunjang oleh kesuburan tanah, iklim, topografi, sumber air dan pengelolaannya.


                                                          
           


Jenis Padang Penggembalaan
Berdasarkan jenis keragaman tanaman/vegetasinya, padang penggembalaan dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain ;
1.    Padang Penggembalaan Alam Padang penggembalaan yang terdiri dari tanaman yang berupa rumput perennial, produktivitas rendah, floranya relatif belum tersentuh oleh manusia (McLlroy, 1976). Menurut Reksohadiprojo (1994), padang penggembalaan alam tidak ada pohon, belum terjadi campur tangan manusia, manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan, masih terdapat gulma, dan daya tampung rendah.
2.    Padang Penggembalaan Buatan Padangan yang vegetasinya sudah dipilih/ditentukan dari varietas tanaman yang unggul. Menurut Reksohadiprodjo (1994) padang penggembalaan buatan adalah tanaman makanan ternak dalam pandangan telah ditanam, disebar, dan dikembangkan oleh manusia. Padangan dapat menjadi padangan permanen atau diseling dengan tanaman pertanian.
3.    Padang Penggembalaan yang Telah Diperbaiki Spesies-spesies hijauan makanan ternak dalam padangan belum ditanam oleh manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya sehingga didapat spesies yang produktif dan menguntungkan 21 dengan jalan mengatur pemotongan atau defoliasi (Reksohadiprodjo, 1994).
4.    Padang Penggembalaan dengan Irigasi Padang penggembalaan ini biasanya terdapat di daerah sepanjang aliran sungai atau dekat dengan sumber air. Penggembalaan ternak dijalankan setelah padang penggembalaan menerima pengairan selama 2-4 hari (Reksohadiprodjo, 1994).
Produktivitas hijauan pakan pada suatu padang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor ketersediaan lahan yang memadai, lahan tersebut harus mampu menyediakan hijauan pakan yang cukup bagi kebutuhan ternak. Selain itu faktor kesuburan tanah, ketersediaan air, iklim dan topografi juga turut berpengaruh.



Tatalaksana
Teknis pengembangan usaha ternak ruminansia baik itu sapi potong, kambing, ataupun domba dengan memakai sistem padang penggembalaan dapat diamati dalam keterangan berikut ;
1.    Jenis padang penggembalaan yang diterapkan adalah padang penggembalaan buatan dimana hijauan pakan sengaja dibuat seragam.
2.    Sistem pertanaman yang disarankan untuk diterapkan adalah kombinasi antara rumput hamparan dan legume. Keuntungan dari penanaman legume bersama dengan rumput adalah leguminosa kaya akan kandungan nitrogen dan kapur sehingga akan meningkatkan nilai gizi dari tanaman padang penggembalaan. Leguminosa juga akan meningkatkan kelembaban tanah karena daun yang menaungi akan mencegah unsur hara tanah menguap saat terik panas matahari.
3.    Penggembalaan dilakukan secara bergilir, padang penggembalaan dibagi dalam beberapa petakan, tujuan penggembalaan secara bergilir adalah untuk memaksimalkan padang penggembalaan pada waktu hijauan masih muda dan bernilai gizi tinggi serta memberikan waktu yang cukup untuk tumbuh kembali.
Jenis rumput hamparan yang digunakan untuk padang penggembalaan hendaknya jenis rumput yang tahan diinjak injak, mampu tumbuh ditanah kering dan mudah membentuk hamparan yang menutup tanah. Salah jenis rumput ini adalah Brachiaria decumbens (Rumput B.D). BPTU-HPT Pelaihari mengembangkan rumput BD ini sebagai tanaman rumput hamparan yang ditanam di padang pastura karena rumput BD memiliki banyak kegunaan antara lain ; sebagai penutup tanah, rumput potong, sumber hay, dan pencegah erosi tanah.

 

 

                                          


Tanaman leguminosa dapat dikombinasikan dalam penanaman padang pastura. Terdapat berbagai  macam tanaman leguminosa yang bersifat menutup diantaranya  Arachis pintoi, Centrosema pubescens, dan Calopogonium mucunoides.

 

                                    
                                                 Arachis pintoi                                                                         Centrosema pubescens

 

 

                                                                                  

                                                                                          Calopogonium muconoides



Keuntungan memelihara ternak dengan sistem pastura adalah ; hemat biaya dan tenaga, mengurangi penggunaan feed supplement protein, menyebarkan pupuk kotoran, dan tidak memerlukan kandang khusus. Sedangkan kekurangannya adalah ; Memerlukan waktu yang lama, harus memiliki lahan yang cukup luas, c. pada saat kemarau kekurangan pakan baik dari kuantitas dan kualitas, memerlukan tempat berteduh dan sumber air, ternak banyak mengeluarkan energi karena jalan, produktivitas ternak kurang maksimal dengan lama penggemukan 8-10 bulan.


Disadur dari ;
Rinduwati, 2017, http://repository.unhas.ac.id, STUDI POTENSI PADANG PENGGEMBALAAN DENGAN PENDEKATAN SPASIAL DI KABUPATEN GOWA SULAWESI SELATAN