Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak

Pelaihari - Kalimantan Selatan

                Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian telah mencanangkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045, untuk itu disusunlah rencana strategis guna mencapai swasembada daging di tahun 2022 sebagai target awal. Guna mewujudkan sasaran besar ini Menteri Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 48/Permentan/PK210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan I Ketut Diarmita, Upsus siwab 2017 dilaksanakan melalui strategi optimalisasi pelaksanaan inseminasi di 33 propinsi di seluruh Indonesia.
           Mengutip dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Drh. I Ketut Diarmita, Keberhasilan upsus siwab harus ditunjang dengan penanaman rumput dan legume seluas 13.000 hektare, penyediaan embung (sumber air), serta penyediaan obat-obatan dan vaksin untuk meningkatkan status kesehatan hewan. BPTU-HPT Pelaihari sebagai salah satu UPT kementan yang bergerak dibidang pembibitan ternak dan hijauan pakan ternak harus menjadi pendukung ketersediaan bibit hijauan pakan ternak berupa legume ataupun rumput di wilayah Indonesia khususnya Kalimantan. Kalimantan sendiri ditetapkan sebagai daerah sentra peternakan dengan sistem pemeliharaan semi intensif bersama dengan Sulawesi Selatan, dan Sumatera dengan potensi populasi betina sebanyak 1.9juta ekor.
           BPTU-HPT Pelaihari memiliki peran penting untuk mensukseskan program swasembada daging. Salah satu potensi yang ada adalah penyediaan bibit hijauan pakan ternak. BPTU-HPT Pelaihari memiliki kebun koleksi rumput dan legume yang kedepannya diharapkan mampu menyediakan kebutuhan bibit bagi masyarakat yang semakin bertambah seiring dengan pertambahan populasi ternak. Koleksi tanaman pakan di kebun koleksi dapat dilengkapi dengan berbagai jenis tanaman legume dan rumput pakan ternak yang dikenal di Indonesia. Berikut adalah jenis legum yang dikenal di Indonesia.

Jenis-jenis Legume


           Leguminosa merupakan jenis tanaman yang digunakan untuk pakan ternak ruminansia dan non ruminansia yang memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga memberi asupan gizi yang cukup bagi ternak.  elain memiliki kandungan protein yang tinggi, tanaman legume juga memiliki zat anti nutrisi yakni mimosin dan tanin yang dapat membahayakan ternak jika diberikan secara berlebihan. Oleh sebab itu, pemberian legum pada ternak harus dilayukan terlebih dahulu kemudian dicampur dengan bahan pakan yang lain seperti rumput raja, rumput gajah dan lain – lain.  Ditinjau dari bentuknya, tanaman leguminosa dibagi menjadi 2 (dua), yaitu : Leguminosa Pohon ; merupakan jenis tanaman leguminosa yang berkayu dan mempunyai tinggi lebih dari 1,5 meter. Leguminosa Semak ; merupakan jenis tanaman leguminosa yang mempunyai tinggi kurang dari 1,5 meter. Sifat tumbuhnya memanjat (twinning) dan merambat (trilling). Beberapa jenis tanaman legume yang dikenal diantaranya adalah ;


1. Gamal (Gliricidia sepium)

 

 

           Gamal adalah tanaman jenis leguminosa pohon yang mempunyai ciri-ciri warna batang putih kecoklatan, perakaran kuat dan dalam serta bunganya berwarna warna merah muda keputihan yang tumbuh diujung cabang tanpa daun. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah, biasa digunakan sebagai tanaman pagar hidup didaerah sub-tropis dan tropis. Gamal juga merupakan salah satu tanaman yang ditetapkan untuk pengendali erosi sekaligus sebagai pakan ternak. Tanaman ini mampu hidup didaerah dengan curah hujan 900-1500 mm/th dengan sekitar 5 bulan periode kering dan cocok pada berbagai jenis tanah dari masam sampai basa.
           Cara penanaman gamal ini bisa dilakukan dengan biji atau stek. Batang tanaman gamal dipotong dan ditancapkan ke tanah, proses selanjutnya gamal akan membentuk akar baru dan tumbuh menjadi tanaman baru. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun. Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan. Tanaman gamal tinggi menjulang dengan batang lurus panjang. Kulit batangnya mudah sekali lecet atau terkelupas. Bunga gamal tersusun dalam rangkaian dengan warna merah muda keputihan.
           Kandungan nutrisi gamal hasil uji lab BPMSP Bekasi: kadar air 7 7 , 7 2 % , a b u 12,75%, protein kasar 26,29%, lemak kasar 1,94%, serat kasar 30,83%, Ca 2,00% dan P 0,35%.


2. Indigofera

 

          Tanaman  ini dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium. Dari hasil pengujian nutrisi Indigofera di Balai Pengujian Mutu d a n Sertifikasi Pakan (BPMSP) Bekasi tahun 2015 adalah sebagai berikut: kadar air 72,65%, abu 15,23%, protein kasar 29,16%, lemak kasar 1,25%, serat kasar 21,60%, Ca 0,48% dan P 0,36%. Dengan kandungan protein yang cukup tinggi dan palabilitas yang baik menjadikan tanaman ini banyak diminati oleh peternak. Tanaman ini dapat tumbuh di tanah dengan elevasi 200-1800m dpl, dengan curah hujan 700-4000mm dengan masa kering 1-7bulan dan cocok pada berbagai jenis tanah termasuk tanah masam berkesuburan rendah serta menyukai tanah bertekstur ringan (lempung-berpasir). Indigofera juga dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi pada lembah, jurang dan lereng curam. Indigofera umumnya dikembangkan dengan generatif melalui biji.


3. Lamtoro (Leucaena leucocephala)

 

 

            Lamtoro merupakan tanaman jenis leguminosa pohon yang berasal dari Amerika tengah, Amerika selatan dan Kepulauan Pasifik.  Lamtoro sering digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi dan mampu tumbuh pada daerah dataran rendah sampai dengan 500 m di atas permukaan air laut dengan curah hujan lebih dari 760 mm/th. Lamtoro dapat tumbuh hingga tinggi 20m. Percabangan rendah, banyak, dengan warna kecoklatan atau keabu-abuan, berbintil-bintil dan berlentisel. Ranting-ranting bulat torak, dengan ujung yang berambut rapat. Cocok pada tanah dengan pH>5 dan ditemukan juga pada tanah bergaram (salin). Kandungan nutrisi untuk kebutuhan ternak dari Lamtoro ini sangat baik, dengan kadar protein yang tinggi, Lamtoro ini bisa menjadi alternatif sumber protein dari hijauan. Hasil pengujian nutrisi di BPMSP Bekasi Tahun 2015, menunjukkan : kadar air 76,63%, abu 8,31%, protein kasar 36,37%, lemak kasar 0,66%, serat kasar 21,00%, Ca 0,99% dan P 0,35%.

 

4. Turi (Sesbania grandiflora)

 

 

            Turi atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Sesbania grandiflora merupakan tanaman jenis leguminosa pohon yang dapat tumbuh dengan baik di tanah yang tidak subur, terkadang juga dapat tumbuh pada tanah yang banyak genangan air dengan ketinggian dibawah 1500 di atas permukaan laut.  Turi dapat tumbuh hingga ketinggian 10 meter. Akarnya berbintil-bintil sehinga dapat menyuburkan tanah. Bunganya berbentuk seperti kupu-kupu berwarna merah muda atau putih.  Turi pada umumnya banyak dimanfaatkan sebagai pohon pelindung karena tumbuhnya yang merambat. Turi banyak mengandung protein yang tinggi dan berkualitas. Hasil uji lab BPMSP Bekasi Tahun 2015: kadar air 80,55%, abu 9,29%, protein kasar 27,59%, lemak kasar 2,93%, serat kasar 23,17%, Ca 1,49% dan P 0,31%. Namun demikian daun turi memiliki kandungan zat anti nutrisi yaitu saponin dan tanin sehingga perlu pengolahan sebelum diberikan pada ternak.